Skip navigation

Arsip Kategori: RANGKUMAN METODOLOGI PENELITIAN

1. Penelitian sosial

Penelitian sosial adalah suatu kegiatan ilmiah yang ada sangkut pautnya dengan berbagai konsep ilmiah, mengenai berbagai bentuk masalah sosial, dan segi-segi kehidupan misalnya : konflik budaya, pengendalian sosial, proses sosialisasi, adaptasi sosial, akulturasi, proses urbanisasi dan akibatnya, dinamika kelompok sosial dan masih banyak lagi bentuk-bentuk gejala sosial lainnya. Penelitian sosial itu berusaha untuk dapat memahami salah satu/suatu segi tertentu dari perilaku manusia dalam lingkungan sosialnya.

Tujuan yang ingin dicapai oleh penelitan sosial ialah berusaha untuk memahami dan memberikan arti terhadap proses kehidupan sosial sebagaimana adanya, dan usaha untuk memecahkan dan mengendalikan permasalahannya.

Penelitian sosial berbeda dengan survey sosial yaitu terletak pada lebih intensif dan tepat, dan lebih berhubungan dengan penemuan prinsip-prinsip umum (general principle).

Sedang survey sosial ialah suatu kerjasama yang dilakukan dengan menerapkan metode ilmiah untuk mempelajari/dan perlakuan (treatment) yang dihubungkan dengan masalah sosial dan kondisi tertentu (pasti) terbatas dalam lingkungan geografis dan hubungannya, penyebaran fakta, kesimpulan dan rekomendasi yang akan dibuatnya sejauh mungkin.

Survey sosial itu mengandung aspek-aspek :

1. Ciri-ciri demografis dari masyarakat,

2. Lingkungan sosial masyarakat,

3. Aktivitas masyarakat,

4. Pendapat dan sikap masyarakat,

Survey sosial adalah suatu penyelidikan dan pengukuran kondisi-kondisi dan situasi sosial, yang dikaitkan dengan usaha untuk merumuskan perencanaan-perencanaan yang konstuktif, guna melaksanakan perbaikan sosial dan reformasi sosial.

Jadi penelitian sosial itu merupakan suatu cara studi, cara analisis dan merumuskan berbagai masalah masyarakat dengan maksud menemukan aspek-aspek yang baru, memahami sebab masalah proses dan saling hubungannya, mengoreksi, mengadakan verifikasi dan memperluas pengetahuan yang diperlukan untuk pengembangan teori-teori dan tindakan-tindakan praktis.

A. Metode Ilmiah

Tujuan dari berbagai metode ilmiah ialah berusaha untuk menjelaskan, memperkirakan atau mengontrol gejala-gejala. Tujuan ini didasarkan atas asumsi bahwa semua perilaku/kejadian/hal itu teratur oleh karena itu semuanya merupakan akibat yang dapat diungkapkan melalui apa yang menjadi penyebabnya.

Penalaran deduktif dan induktif juga ada keterbatasannya bila digunakan secara eksklusif. Penalaran induktif termasuk formulasi generalisasi yang didasarkan atas observasi dari sejumlah kejadian khusus yang terbatas, misalnya : Setiap buku wajib penelitian berisi sebuah bab sampling, karena itu semua buku wajib penelitian berisi sebuah bab sampling.

Bila kedua pendekatan ini digunakan bersama secara integral sebagai komponen, metode ilmiah sangat efektif. Pada dasarnya metode ilmiah itu induksi hipotesis yang ditandai observasi, deduksi implikasi hipotesis, pengujian implikasi dan konfirmasi atau tindakan konformasi dari suatu hipotesis.

Metode ilmiah itu merupakan suatu proses yang teratur yang mengakibatkan sejumlah langkah-langkah berikutnya yaitu : pengenalan dan definisi permasalahan, formulasi hipotesis, pengumpulan data, analisis data dan pernyataan kesimpulan dalam penerimaan atau penolakan hipotesis.

B. Aplikasi dari metode ilmiah

Penelitian itu formal, maka diperlukan aplikasi yang sistematis dari metode ilmiah untuk mempelajari masalah-masalah. Perbedaan yang besar antara peneliti sosial dengan peneliti lainnya terletak pada hakekat gejala-gejala yang dipelajari. Sangat sulit untuk menerangkan, mengenal, meramalkan/mengendalikan situasi yang berhubungan dengan manusia dari pada menjelaskan tentang seluruh organisme yang sangat kompleks, karena begitu banyak variabel yang diketahuai/tak diketahui yang beroperasi dalam lingkungan sosial yang sangat sulit untuk digeneralisasikan ataupun ditiru kembali/ditemukan kembali. Suatu peristiwa itu terjadi hanya sekali dan sulit untuk diulangi kembali dengan kondisi yang persis sama.

C. Relevansi Metodologi Penelitian

Mempelajari metodologi penelitian merupakan hal yang sangat penting (syarat mutlak) dalam usaha pencapaian sikap, kemampuan dan keterampilan meneliti. Setiap mata kuliah membei kemungkinan untuk menimbulkan masalah yang perlu diteliti oleh mahasiswa. Apabila seseorang telah menguasai metodologi penelitian, maka terbukalah berbagai peluang untuk dapat mengungkapkan berbagai problem sosial yang terdapat dalam masyarakat. Seorang peneliti ilmiah dituntut untuk memiliki sifat-sifat dan sikap obyektivitas ilmiah kemampuan menyesuaikan diri dan keterbukaan terhadap ide-ide baru.

a. Sikap ilmiah yang harus dimiliki seorang peneliti berpandangan luas

b. Kemampuan menyesuaikan diri yang dimiliki seorang peneliti

c. Keterbukaan terhadap ide-ide baru.

D. Pendekatan untuk mendapatkan kebenaran

Adanya rasa mengagumi pada manusia terhadap keadaan alam secara luas ataupun secara sempit (macro cosmos dan micro cosmos) membangkitkan pertanyaan-pertanyaan antara lain : apa ini, apa itu, mengapa begini, mengapa begitu, bagaimana ini, bagaimana itu dan sebagainya.

E. Pendekatan non ilmiah

Dalam kalangan masyarakat awam sering terjadi usaha untuk mendapatkan kebenaran melalui pendekatan non ilmiah, karena tak tahu/mampu menggunakan sistem pendekatan ilmiah.

Ada beberapa pendekatan non ilmiah, antara lain : akal sehat, prasangka, intuisi, penemuan coba-coba dan secara kebetulan dan pendapat otoritas ilmiah dan pikiran kritis. (Sumadi Suryobroto, 1983,3).

F. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah diperoleh melalui pendelitian ilmiah yang dibangun atas dasar teori-teori tertentu. Teori dapat diuji keajegan (consistency) dan kemantapan internalnya, karena dikembangkan melalui penelitian ilmiah yang sistimatis dan terkontrol (terkendali) berdasarkan data empiris. Pendekatan ilmiah ini akan menghasilkan kesimpulan serupa bagi hampir setiap orang, karena pendekatannya tidak diwarnai oleh keyakinan pribadi, perasaan dan bias, karena itu kesimpulannya bersifat obyektif.

G. Ruang Lingkup Metode Penelitian Sosial

Penelitian sosial selalu mengikuti jalur proses penelitian ilmiah, yaitu membahas masalah-masalah sosial yang berhubungan dengan : (1) identifikasi masalah, (2) konsep/teori/proposisi, (3) hipotesis, (4) variabel dan definisi operasional, (5) desain penelitian, (6) alat penelitian, (7) sampel penelitian, (8) data penelitian, (9) analisa data, (10) laporan dan, (11) penemuan.

Karena itu ruang lingkup yang digarap oleh metodologi penelitian sosial ialah meliputi semua gejala sosial, yang terdiri dari peristiwa, fakta, dan kejadian serta interes sosial yang mudah terjadi menurut deskripsi dan penjelasan-penjelasan ilmiah. Hal ini dapat berbentuk kondisi, atau permasalahan yang terdapat dalam bidang ilmu sosial antara lain : ekonomi, pemerintahan, hukum, pendidikan, psikologi, sosiologi, antropologi, dan sebagainya.

H. Tugas-tugas Ilmu Pengetahuan dan Penelitian

Tugas-tugas ilmu pengetahuan dan penelitian adalah sama. Tugas-tugas tersebut menurut Sumadi Suryabroto (1983, 7) adalah sebagai berikut :

a. Mencandra (mengulas) atau mendeskripsikan yaitu menggambarkan secara luas hal-hal masalah-masalah yang dipersoalkan.

b. Tugas menerangkan (eksplanasi) yaitu menerangkan kondisi-kondisi yang mendasari terjadinya peristiwa-peristiwa (hal-hal).

c. Menyusun teori, yaitu mencari dan merumuskan hukum-hukum atau tatanan mengenai hubungan antara kondisi yang satu dengan kondisi yang lainnya.

d. Membuat prediksi yaitu ramalan-ramalan, estimasi dan proyeksi mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi atau gejala yang akan muncul.

e. Mengadakan pengendalian yaitu melalukan tindakan-tindakan guna mengendalikan/mengatur peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala.

Sebagai keseluruhan ilmu dan penelitian mengemban tugas tersebut, atas dasar ini maka orang akan sering menggunakan kriteria dalam menentukan bobot suatu karya ilmiah dari segi kelima tugas tersebut.

METODE DAN JENIS PENELITIAN

1. Metode Penelitian dan Perkembangannya.

Metode berasal dari kata Yunani : Methodos yang berasal dari kata “meta” = melalui dan “hodos” = jalan/cara. Metode ialah cara yang dilakukan untuk mencapai. Jadi metodologi penelitian adalah cara-cara berbuat/berpikir yang dilalui untuk mencapai tujuan penelitian. Metodologi adalah ajaran-ajaran/pengetahuan tentang cara-cara yang digunakan dalam proses tertentu . metologi Penelitian Sosial adalah ajaran / pengetahuan tentang cara-cara yang digunakan dalam proses penelitian dan lingkungan masyarakat.

Metode penelitian tidak lepas dari pengaruh ilmu yang lebih tua, misalnya : metode observasi yang diggunakan dalam ilmu sosial dan psikologi ditiru dari astronomi dan biologi, metode eksperimen ditiru dari ilmu-ilmu kealaman, dan lain-lain. Kuantifikas data dalam metodologi penelitian sangat besar pengaruhnya setelah adanya komputer. Ilmu-ilmu sosial makin cenderung untuk mengunakan pendekatan kuantitatif karena kemudahan-kemudahan dari mengunakan komputer. Pendekatan kuantitatif dalam penelitian memerlukan skala pengukuran, menurut Stevens yang dikutip oleh Sumadi (1983,14) dapat digolongkan menjadi empat, yaitu : 1) Skala Nominal, (2) Skala Ordinal, (3) Skala Interval dan (4) skala Rasio (nisbah) yang masing-masing menghasilkan jenis data yang berbeda-beda.

Rumel (1958, 8) membedakan perkembangan metodologi penelitian menjadi (1) Period of trial and error (coba-coba dan kesalahan), (2) otoritas dan tradisi (3) Period of autority and argumentation (spekulasi dan argumentasi) dan (4) period of hypotesis and experimentation (hipotesis dan ekperimental).

2. Cara-Cara Pendekatan Dalam Penelitian.

Dalam melaksanakan penelitian, dapat digunakan cara-cara pendekatan yang sesuai dengan desain penelitian yang diinginkannya. Jika studi penelitian telah dirumuskan, maka langkah selanjutnya ialah menyusun desain penelitian. Dalam menyusun desain penelitian ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yang berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan : (1) Cara pendekatan apa yang digunakan, (2) Metode apa yang dipakai, (3) Strategi mana yang dapat digunakan paling tepat.

3. Jenis – Jenis Penelitian.

Stephen Isaac (1980, 17 – 30) membedakan jenis penelitian menurut ciri-ciri dan sifat-sifat masalah menjadi :

a. Penelitian Historikal (Historical Research)

Tujuan penelitian historikal adalah untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan, serta memsintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.

Ciri – ciri :

1. Penelitian historikal lebih tergantung kepada data yang diobservasi orang lain daripada yang diobservasi oleh peneliti sendiri

2. Berlainan dengan anggapan yang populer, penelitian historikal haruslah tertib, ketat, sistematis, dan tuntas ; seringkali penelitian yang dikatakan sebagai suatu “penelitian historis” hanyalah koleksi informasi-informasi yang tak layak, tak reliabel, dan berat sebelah

3. Penelitian historikal tergantung kepada dua macam data, yaitu data primer dan data sekunder

4. Untuk menentukan bobot data, biasa dilakukan dua macam kritik, yaitu kritik eksternal dan kritik internal

5. Walaupun penelitian historikal mirip dengan penelaahan kepustakaan yang mendahului lain-lain bentuk rancangan penelitian, namun cara pendekatan historikal adalah lebih tuntas, mencari informasi dari sumber yang lebih luas.

Langkah – langkah Pokok :

(1) Definisikan masalah.

(2) Rumuskan tujuan penelitian

(3) Kumpulkan data

(4) Evaluasi data yang diperoleh dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal

(5) Tuliskan laporan.

b. Penelitian Deskriptif (Deskriptive Research)

Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu.

Ciri – Ciri :

(1) secara harafiah, penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandreaan (deskripsi) mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Dalam arti ini penelitian deskriptif itu adalah akumulasi data dasar dalam cara diskriptif semata-mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, mentest hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan implikasi, walaupun penelitian yang bertujuan untuk menemukan hal-hal tersebut dapat mencakup juga metode-metode deskriptif. Tetapi para ahli memberikan arti penelitian deskriptif itu lebih luas, dasn mencakup segala macam bentuk penelitian kecuali penelitian historikal dan penelitian eksperimental. Dalam arti luas ini, biasanya digunakan istilah penelitian survai.

(2) Tujuan penelitian-penelitian survei :

a. untuk mencari informasi faktual yang mendetail yang mencandra gejala yang ada.

b. Untuk mrngidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan praktek-praktek yang sedang berlangsung.

c. Untuk membuat komparatif dan evaluasi.

d. Untuk mengetahui apa yang dikerjakan oleh orang-orang lain dalam menangani masalah atau situasi yagn sama, agar dapat belajar dari mereka untuk kepentingan pembuatan rencana dan pengambilan keputusan di masa lalu.

Langkah-langkah pokok :

(1) Definisikan dengan jelas dan spesifik tujuan yang akan dicapai

(2) Rancangkan cara pendekatannya

(3) Kumpulkan Data

(4) Susun laporan.

c. Penelitian Pengembangan (Developmental Research).

Tujuan penelitian perkembangan adalah untuk menyelidiki pola dan perurutan pertumbuhan dan / atau perubahan sebagai fungsi waktu.

Ciri – Ciri :

(1) Penelitian perkembangan memusatkan perhatian pada studi mengenai variabel-variabel dan perkembangannya selama beberapa bulan atau beberapa tahun.

(2) Masalah sampling dalam studi longitudinal adalah kompleks karena terbatasnya subyek yang dapat diikuti dalam waktu yang lama ; berbagai faktor mempengaruhi kelemahan dalam studi longitudinal.

(3) Studi-studi croos-sectional biasanya meliputi subyek lebih banyak, tetapi mencandra faktor-faktor pertumbuhan yang lebih sedikit daripada studi-studi longitudinal.

(4) Studi-studi kecenderungan mengandung kelemahan bahan faktor-faktor yang tak dapat diramalkan mungkin masuk dan memodifikasi atau membuat kecenderungan yang didasarkan masa lampau menjadi tidak sah.

Langkah – Langkah Pokok :

(1) Definisikan masalahnya atu rumuskan tujuan-tujuannya

(2) Lakukan penelaahan kepustakaan untuk menentukan garis dasar informasiyang ada dan memperbandingkan metodologi-metodologi penelitian

(3) Rancangkan cara pendekatan

(4) Kumpulkan data

(5) Evaluasi data yang terkumpul

(6) Susun laporan mengenai hasil evaluasi itu.

d. Penelitian Kasus dan Penelitian Lapangan (Case Study and Field Research).

Tujuan penelitian kasus dan penelitian lapangan adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial : individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.

Ciri–Ciri :

(1) Penelitian kasus adalah penelitian mendalam mengenai unit sosial tertentu yang hasilnya merupakan gambaran yang lengkap dan terorganisasi baik mengenai unit tersebut

(2) Dibandingkan dengan studi survai yang cenderung untuk meneliti sejumlah kecil variabel pada unit sampel yang besar, studi kasus cenderung untuk meneliti jumlah unit yang kecil tetapi mengenai variabel-variabel dan kondisi-kondisi yang besar jumlahnya.

Keunggulan – Keunggulan :

(1) Penelitian-penelitian kasus terutama sangat berguna untuk informasi latar belakang guna perencanaan penelitian yang lebih besar dalam ilmu-ilmu sosial.

(2) Data yang diperoleh dari penelitian-penelitian kasus memberikan contoh-contoh yang bergunauntuk memberi ilustrasi mengenai penemuan-penemuan yang digeneralisasikan dengan statistik.

Kelemahan – Kelemahan :

(1) karena fokus yang terbatas pada unit-unit yang sedikit jumlahnya, penelitian kasus itu terbatas sifat representatifnya.

(2) Penelitian kasus terutama sangat peka terhadap keberat-sebelahan subyektif. Kasusnya sendiri mungkin dipilih atas dasar sifat khasnyaa.

Langkah – Langkah Pokok :

(1) Rumuskan tujuan-tujuan yang akan dicapai .

(2) Rancangan cara pedekatannya

(3) Kumpulkan data .

(4) Organisasikan data dan informasi yang diperoleh itu menjadi rekonstruksi unit studi yang relevan dan terpadu secara baik.

(5) Susunlah laporannya dengan sekaligus mendiskusikan makna hasil tersebut.

e. Penelitian Korelasional (Correlational Research).

Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi – variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.

Ciri – Ciri :

(1) Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti rumit dan/atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat di manipulasikan.

(2) Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.

(3) Apa yang diperoleh adalah taraf atau tinggi rendahnya saling hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.

(4) Penelitian korelasional mengandung kelemahan-kelemahan, antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Hasilnya cuma mengidentifikasikan apa sejalan dengan apa, tidak mesti menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal.
  2. Jika dibandingkan dengan penelitian ekperimental, penelitian korelasional itu kurang tertib-ketat, karena kurang melakukan kontrol terhadap variabel-variabel bebas.
  3. Pola saling hubungan itu sering tak menentu atau kabur.
  4. Sering merangsang penggunaannya sebagai macam short-gun approach, yaitu memasukkan berbagai data tanpa pilih-pilih dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna.

Langkah – Langkah Pokok :

(1) Definisikan masalah.

(2) Lakukan penelaahan kepustakaan.

(3) Rancangkan cara pendekatannya.

  1. Identifikasi variabel-variabel yang relevan ;
  2. Tentuikan subyek yang sebaik-baiknya ;
  3. Pilih atau susun alat pengukur yang cocok ;
  4. Pilih metode korelasional yang cocok untuk masalah yang sedang digarap.

(4) Kumpulkan data.

(5) Analisa data yang telah terkumpul dan buat interpretasinya

(6) Tuliskan laporan.

f. Penelitian Kausal – Komparatif (Causal – Comparative Research).

Tujuan penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara : berdasarkan atas pengamatan terhadap akibat yang ada mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu. Hal ini berlainan dengan metode eksperimental yang mengumpulkan datanya pada waktu kini dalam kondisi yang dikontrol.

Ciri – Ciri Pokok :

Penelitian kausal komperatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat sebagai “dependent variabeles” dan menguji data itu dengan menelusur kembali kemasa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.

Keunggulan – Keunggulan :

(1) Metode kausal-komparatif adalah baik untuk berbagai keadaan kalau metode yang lebih kuat, yaitu metode ekperimental, tak dapat digunakan :

a. Apabila tidak selalu mungkin untuk memilih, mengontrol, dan memanipulasikan faktor-faktor yang perlu untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat secara langsung.

  1. Apabila pengontrolan terhadap semu variabel, kecuali variabel bebas sangat tidak realistik dn dibuat-buat, yang mencegah interaksi normal dengan lain-lain variabel yang berpengaruh.
  2. Apabila kontrol di laboratorium untuk berbagai tujuan penelitian adalah tidak praktis, terlalu mahal, atau dipandang dari segi etika diragukan / dipertanyakan.

(2) studi kausal-komparatif menghasilkan informasi yang sangat berguna mengenai sifat-sifat gejala yang dipersoalkan : apa sejalan dengan apa, dalam kondisi apa, pada perurutan dan pola yang bagaimana, dan yang sejenis dengan itu.

(3) Perbaikan dalam hal teknik, metode statistik, dsan rancangan dengan kontrol parsial, pada akhir-akhir ini telah membuat studi kausal-komparatif itu lebih dapat dipertanggung jawabkan.

Kelemahan – Kelemahan :

(1) Kelemahan utama setiap rancangan ex post facto adalah tidak adanya kontrol terhadap variabel bebas.

(2) Adalah sukar untuk memperoleh kepastian bahwa faktor-faktor penyebab yang relevan telah benar-benar tercakup dalam kelompok faktor-faktor yang sedang diselidiki.

(3) Kenyataan bahwa faktor penyebab bukanlah faktor tunggal, melainkan kombinasi dan interaksi antara berbagai faktor dalam kondisi tertentu untuk menghasilkan efek yang disanksikan, menyebabkan soalnya sangat kompleks.

(4) Suatu gejala mungkin tidak hanya merupakan akibat dari sebab-sebab ganda, tetapi dapat pula disebabkan oleh sesuatu sebab pada kejadian tertentu dan oleh lain sebab pada kejadian lain.

(5) Apabila saling hubugan antara dua variabel telah diketemukan, mungkin sukar untuk menentukan mana yang sebab dab mana yang akibat.

(6) Kenyataan bahwa dua , atau lebih, faktor-faktore saling berhubungan tidak lah meski memberikan implikasi adanya hubungan sebab akibat.

(7) Mengolong-golongkan subyek dalam kategori dikotomi (misalnya golongan pandai dengan golongan bodoh) untuk tujuan perbandingan, menimbulkan persoalan-persoalan, karena kategori-kategori macam itu sifatnya kabur, bervariasi, dan tak mantap. Seringkali penelitian yang demikian itu tidak menghasilkan penemuan yang berguna.

(8) Studi komparatif dalam situasi alami tidak memungkinkan pemilihan subyek secara terkontrol.

Langkah – Langkah Pokok :

(1) Definisikan masalah.

(2) Lakukan penelaahan kepustakaan

(3) Rumuskan hipotesis-hipotesis

(4) Rumuskan asumsi-asumsi yang mendasari hipotesis-hipotesis itu serta prosedur-prosedur yang akan digunakan.

(5) Rancangan cara pendekatannya :

a. Pilihlah subyek-subyek yang akan digunakan serta sumber-sumber yang relevan.

  1. Pilihlah atau susunlah teknik yang akan digunakan untuk mengumpulkan data.
  2. Tentukanlah kategori-kategori untuk mengklasifikasikan data yang jelas, sesuai dengan tujuan studi, dan dapat menunjukkan kesamaan atau saling hubungan.

(6) Validasikan teknik untuk mengumpulkan data itu, dan interpretasikan hasilnya dalam cara yang jelas dan cermat.

(7) Kumpulkan dan analisis data

(8) Susunan laporannya.

g. Penelitian Eksperimental Murni (True-experimental Research).

Tujuan penelitian ekperimental murni adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubugan sebab akibat dengan cara mengunakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental satu atau lebih kondisi perlakukan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.

Ciri – Ciri Eksperimental Designs :

(1) Menurut pengaturan variabel-variabel dan kondisi-kondisi ekperimental secara tertib-ketat, baik dengan kontrol atau manipulasi langsung maupun dengan randomisasi (pengaturan secara rambang).

(2) Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai “garis besar” untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental (kelompok-kelompok) yang dikenal perlakukan eksperimental.

(3) Memusatkan usaha pada pengontrolan Varians :

a. Untuk memaksimalkan varians variabel (variabel-variabel) yang berkaitan dengan hipotesis penelitian ;

b. Untuk meminimalkan varians variabel pengganggu atau yang tidak diinginkan yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi yng tidak menjadi tujuan penelitian.

c. Untuk meminimalkan varians kekeliruan atau varians rambang, termasuk apa yang disebut kekeliruan pengukuran.

Penyelesaian terbaik : pemilihan subyek secara rambang, penetapan subyek dalam kelompok-kelompok secara rambang, penentuan perlakuan eksperimental.pada kelompok secara rambang.

(4) Internal Validity adalah sine qua non untuk rancangan ini merupakan tujuan utama metode eksperimental Pertanyaan yang perlu dijawab adalah : apakah manipulasi eksperimental pada studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan ?

(5) Tujuan kedua metode eksperimental adalah external validity, yang menanyakan persoalan : seberapa representatifkah penemuan-penemuan penelitian itu dan seberapa jauh hasil-hasilnya dapat digeneralisasikan kepada subyek-subyek atau kondisi-kondisi yang semacam.

(6) Dalam rancangan eksperimental yang klasik, semua variabel penting diusahakan agar konstan kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

Langkah – Langkah Pokok :

(1) lakukan survai kepustakaan yang relevan bagi masalah yang akan digarap.

(2) Identifikasi dan definisikan masalah.

(3) Rumuskan hipotesis, berdasarkan atas penelaahan kepustakaan.

(4) Definisikan pengertian-pengertian dasar variabel-variabel utama.

(5) Susunan rancangan ekperimen :

a. Identifikasi bermacam-macam variabel yang relevan.

  1. Identifikasi variabel-variabel non-eksperimental yang mungkin mencemarkan eksperimen, dan tentukan bagaimana caranya mengontrol variabel-variabel tersebut.
  2. Tentukan rancangan eksperimennya.
  3. Pilih subyek yang representatif bagi populasi tertentu, tentukan siapa-siapa yang masuk kelompok kontrol dan siapa-siapa yang masuk kelompok eksperimen.
  4. Terapkan perlakuan.
  5. Pilih atau susun alat untuk mengukur hasil eksperimen dan validasikan alat tersebut.
  6. Rancangkan prosedur pengumpulan data, dan jika mungkin lakukan percobaan atau uji coba test untuk menyempurnakan alat pengukur atau rancangan eksperimennya.
  7. Rumuskan hipotesis nolnya.

(6) Laksanakan Eksperimen.

(7) Aturlah data kasar itu dalam cara yang mempermudah analisis selanjutnya ; tempatkan dalam rancangan yan memungkinkan memperhitungkan efek yang diperkirakan akan ada.

(8) Terapkan test signifikansi untuk menentukan taraf signifikansi hasilnya.

(9) Buatlah interpretasi mengenai hasil testing itu, berikan diskusi seperlunya, dan tulislah laporannya.

h. Penelitian Eksperimental Semu (Quasi-experimental Research).

Tujuan penelitian eksperimental semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/ atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti kompromi-kompromi apa yang ada pada internal validity dan eksternal validity rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.

Ciri – Ciri :

(1) Penelitian eksperimental semu khas mengenai keadaan praktis, yang didalamnya adalah tidak mungkin untuk mengontrol semua variabel-variabel yang relevan kecuali beberapa variabel-variabel tersebut.

(2) Perbedaan antar penelitian eksperimental sungguhan dan penelitian eksperimental semu adalah kecil, terutama kalau yang dipergunakan sebagai subyek adalah manusia, misalnya dalam psikologi.

(3) Walaupun penelitian tindakan dapat mempunyai status eksperimental semu, namun seringkali penelitian tersebut sangat formal, sehingga perlu diberi kategori tersendiri.

Langkah – Langkah Pokok :

Langkah-langkah pokok dalam melaksanakan penelitian eksperimen semu adalah sama dengan langkah-langkah pokok dalam melakukan penelitian eksperimental sungguhan, dengan pengakuan secara teliti terhadap masing-masing keterbatasan dalam hal validitas internal dan eksternal.

i. Penelitian Tindakan (Action Research).

Penelitian tindakan bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual lain.

Ciri – Ciri :

(1) Praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja.

(2) Menyediakan rangka-rangka yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan baru

(3) Fleksibel dan adaptif, membolehkan perubahan-perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on the experimentation dan inovasi.

(4) Walaupun berusaha supaya sistematis, namun penelitian tindakan kekurangan ketertiban ilmiah, karenanya validitas internal dan eksternalnya adalah lemah. Tujuannya situasional, sampelnya terbatas dan tidak refpresentatif, dan kontrolnya terhadap variabel bebas sangat kecil. Karena itu hasil-hasilnya walaupun berguna untuk dimensi praktis, namun tidak secara langsung memberi sumbangan kepada ilmunya.

Langkah – Langkah Pokok :

(1) Definisikan masalah atau tetapkan tujuannya.

(2) Lakukan penelaahan kepustakaan untuk mengetahui apakah orang-orang lain telah menjumpai masalah yang sama atau telah mencapai tujuan yang berhubungan dengan apa yang akan dicapai dalam penelitian itu.

(3) Rumuskan hipotesis atau strategi pendekatan, dengan menyatakannya dalam bahasa yang jelas, spesifik

(4) Aturlah kerangka penelitian (research setting) dan jelaskan yang akan dikerjakan dalam usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan ?

(5) Tentukan kriteria evaluasi teknik pengukuran, dan lain-lain sarana untuk mendapatkan umpan-balik yang berguna.

(6) Analisa data yang terkumpul dan evaluasi hasilnya.

(7) Tuliskan laporannya.

3. Ilmu – Ilmu Sosial dan Ilmu Alam.

Perkembangan ilmu-ilmu sosial masih sangat terbelakang jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam. Ahli-ahli pengetahuan sosial, ditantang untuk mengejar ketinggalan tersebut karena itu tidak segan-segan untuk menggunakan metode-metode ilmu pengetahuan alam yang dapat digunakan dalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial.

Penyebab timbulnya keterbelakangan tersebut antar lain : (1) Gejala-gejala sosial itu sangat kompleks, sedangkan gejala alam relatif lebih sederhana, (2) gejala alam umum dapat diamati secara langsung sedangkan gejala sosial sebaliknya, (3) peristiwa peristiwa alam menunjukkan kemantapan predikasi yang pasti sehingga generalisasi dan hukum-hukum pada gejala-gejala alam mempunyai harga predikasi yang lebih tinggi, seangkan gejala-gejala sosial pada umumnya tidak mutlak dan pasti, (4) sikap masyarakat pada umumnya kurang menghargai ilmu pengetahuan sosial dibandingkan dengan ilmu pengetahuan alam, (5) dalam penelitian, peristiwa-peristiwa alam tuntutan obyektifitas mudah dapat dipenuhi, sebaliknya gejala-gejala sosial sulit memperoleh obyektifitas seperti halnya terhadap gejala-gejala alam, karena yang disediki manusia yang memiliki : kemauan, perasaan, keinginan, sikap dan sebagainya.

UNSUR-UNSUR PENELITIAN ILMIAH

1. Konsep

Konsep diartikan sebagai definisi singkat (pengertian) dari sekolompok fakta/gejala (Tan, 1973, hal. 26) Selltiz, dkk. (1977, pp. 41 – 42) mengartikan konsep sebagai abstraksi dari semua peristiwa/kejadian yang diobservasi. Lin (1976, p. 30) mengatakan bahwa unsur-unsur abstraksi biasanya diartikan sebagai konsep, lalu terminologi empiris diartikan sebagai variabel-variabel. Jadi Lin hendak memisahkan gejala-gejala/peristiwa-peristiwa nyata di alam sekitar dan masyarakat yang bersifat empiris dan bersifat abstraksi.

Demikian konsep adalah penyederhanaan pemikiran tentang jumlah peristiwa/kejadian/gejala ke dalam satu pokok (heading). Dari uraian tersebut di atas jelas konsep dapat bersifat abstraksi (Lin, 1976, pp. 30 –31 ; Tan, 1973 hal. 26) dan bersifat fakta/empiris (Tan, 1976, pp. 30 – 31 ; Selltiz, dkk, 1977, pp. 41 – 42), Tan 1973, hal. 26).

Konsep-konsep adalah ide-ide atau bayangan mental tentang dunia nyata. Menurut Meyer (1984, hal. 35) konsep meliputi tiga bagian yaitu : (1) ide (bayangan mental), (2) gejala nyata di mana ide ini mengacu (acuan), dan (3) simbul-simbul di mana ide-ide dikomunikasikan kepada orang lain.

2. Proposisi

Suatu proposisi adalah suatu pernyataan (statement) tentang hubungan antara dua konsep atau lebih. Meyer, et.al (1984, hal. 42 – 43) mengatakan bahwa proposisi adalah suatu pernyataan masalah secara sederhana yang ingin diverifikasi oleh peneliti. Suatu proposisi mengikuti konsep-konsep dalam bentuk saling mempengaruhi. Contoh beberapa tipe proposisi antara lain :

A. Makin besar A, makin besar pula B, makin tinggi kedudukannya makin tinggi (baik) penghasilannya. Terlihat kedudukan yang makin baik di masyarakat memungkinkan penghasilan makin lebih cukup. Misalnya, pada saat ini menjadi Bupati penghasilannya lebih tinggi pada saat menjadi Camat. Demikian hubungan antara kedudukan dan penghasilan merupakan proposisi, yang terdiri dari konsep kedudukan dan konsep penghasilan.

B. Peningkatan di A berkaitan dengan penurunan di B. Demikian A secara positif atau negatif bereaksi terhadap B. Suatu perubahan positif di A menimbulkan perubahan positif terhadap B dan suatu perubahan positif terhadap A menimbulkan perubahan negatif terhadap B.

Proposisi yang diketahui atau premis-premis disebut postulatu atau asumsi atau dasar argumentasi. Proposisi yang tidak diketahui atau konklusi disebut deduksi.

Sutrisno Hadi (1968, hh. 39 – 42) dan Mayer, et. Al (1984, hal. 42 – 43) mengelompokkan 4 (empat ) jenis proposisi, yaitu : (1) proposisi kategoris, (2) proposisi kondisional, hipotesis atau bersyarat, (3) proposisi alternatif, dan (4) proposisi disjungtif.

Contoh-contohnya :

ad 1) Proposisi Kategorisu

Postulat :

a. Semua manusia mati

b. Sekrates adalah manusia

Deduksi/Kesimpulan :

c. Sekrates mati

ad 2) Proposisi Kondisional

Postulat

a. Jika pada pagi hari orang merasa panas berarti hari akan hujan

b. Pada pagi hari orang-orang merasa panas

Deduksi/Kesimpulan :

c. Ada tanda hari akan hujan

Ad 3) Proposisi Alternatif

Postulat :

a. Saya harus kawin atau meneruskan pelajaran

b. Saya tidak akan meneruskan pelajaran

Deduksi/Kesimpulan :

c. Jadi saya harus kawin

Ad 4) Proposisi Disjungtif

Postulat :

a. Tidak mungkin seseorang dalam keadaan miskin akan hidup mewah

b. Seorang di dalam keadaan miskin

Deduksi/Kesimpulan :

c. Jadi tidak ada/mungkin ia akan hidup mewah.

Premis mayor dan premis minor dalam proposisi kategoris mempunyai kebenaran mutlak. Bila premis mayor dan premis minor diterima, maka dapat menerima proposisi ketiga (kesimpulan). Berbeda dengan proposisi kategoris, maka proposisi hipotesis dengan premis mayornya tidak mengandung kebenaran mutlak. Misalnya S adalah P dalam kondisi tertentu, tetapi dalam kondisi-kondisi tertentu A tidak menunjukkan ciri-ciri P.

3. T e o r i

Teori didefinisikan sebagai suatu set proposisi yang saling berkaitan, di mana beberapa proposisinya dapat diuji secara empiris. Interelasi antara proposisi-proposisi merupakan ciri penting dari suatu teori. Dapat pula dikatakan suatu teori menampakkan 3 (tiga) ciri penting yaitu : (1) satu set proposisi, (2) proposisi-proposisi tersebut saling berkaitan, dan (3) beberapa proposisi dapat diuji secara empiris.

Pentingnya Teori.

Teori sendiri berguna sebagai sumber hipotesa, sebab itu hipotesa disebut sebagai teori sementara karena berperan sebagai petunjuk pemecahan masalah selama data belum terkumpul.

Tujuan Teori.

(1) Teori secara ilmiah mempunyai tujuan penting yaitu menerangkan hubungan antara kegiatan-kegiatan/variabel-variabel yang hendak diamati/diteliti, misalnya teori migrasi dan pengangguran.

(2) Teori dapat menjelaskan hubungan antara berbagai aktivitas sosial.

(3) Ada kemungkinan beberapa teori dapat memberi penjelasan terhadap phenomena sosial yang sama.

(4) Teori sebagai titik permulaan hipotesa yang akan dibuktikan.

(5) Bila dikaitkan ini dari sudut pemecahan masalah maka teori merupakan hipotesis yang sudah terpecahkan, (hiposa merupakan pemecahan sementara sautu masalah). Amun kekuatan daya ramal teori dapat berubah (hilang) bila tersedia/terkumpul data baru.

(6) Teori itu terbatas, berarti teori hanya berperan untuk menjelaskan suatu aspek dari seluruh fenomena persoalan, keunggulan suatu teori Kapilaritet sosial dari Henry Dument yang hanya menjelaskan pergeseran status dan peranan di masyarakat.

(7) Ada dalil yang lebih pasti dari dalil lain, menyebabkan tori yang satu lebih kuat dari teori lain. Biasanya teori-teori ilmu-ilmu alam lebih kuat dari teori –teori ilmu-ilmu sosial.

(8) Teori itu terus berkembang., sautu teori pada saat berubah atau runtuh, adalah akibat perkembangan teori itu sendiri seirama dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

4. V a r i a b e l.

Variabel diartikan sebagai serentetan unsur yang menjadi obyek pengamatan penelitia. Tegasnya variabel didefinisikan sebagai suatu karakteristik yang memiliki lebih darisatu nilai kategori yang berbeda. Misalnya :

(1) Jenis kelamin merupakan variabel yang berdiri dari kategori-kategori/atribut-atribut laki-laki dan perempuan.

(2) Warna kulit merupakan suatu variabel, terdiri dari atribut-atribut seperti merah, biru, hijau.

(3) Kelas-kelas sosial merupakan variabel yang terdir atas atribut-atribut seperti kelas atas, kelas menengah dan bawah.

Karakteristik variabel dibedakan atas 2 (dua) jenis/kelompok atribut, yaitu : (1) kelompok atribut dari suatu variabel yang bersifat exhaustive, dan (2) kelompok atribut dari suatu varibel yang bersifat mutually exelusive.

Demikian klasifikasi variabel-variabel ditinjau dari proses kuantifikasi dibedakan kedalam 4 (empat) jenis, yaitu varibel nominal, variabel ordinal, variabel interval, dan varibel ratio.

Variabel Nominal.

Variabel nominal bersifat deskrit dn saling pilah(mutually exclusively). Beberapa contoh tipe varibel nominal adalah jenis kelamin, status perkawina, ras, agama, misalnya lebih banyak laki-laki dari pada perempuan di sekolah A, atau sekitar 12% dari penduduk kota B berwarna kulit putih.

Variabel Ordinal.

Variabel ordinal terdiri atas atribut/kategori-kategori yang disusun berdasarkan jenjang kategori-kategori. Jenjang kategori-kategori memungkinkan adanya perbandingan antara nilai-nilai/kategori-kategori pada suatu variabel. Nilai-nilai dari suatu variabel ordinal dapat dirangking, misalnya rangking mahasiswa dalam tiap semester, dengan jenjang tertinggi, angka 1, jenjang : menengah, nagka 2, jenjang bawah angka 3, bila jenajng kelulusan dinyatakan secara simbolis seperti 1 >2>3. Melalui variabel-variabel ordinal daspat ditentukan seseorang itu lebih tua, lebih muda atau sama umur dengan orang lain.

Variabel Interval.

Suatu variabel tidak hanya membicarakan soal rangking kategori-kategori, tetapi mempersoalkan pula jarak relatif antara tiap kategori dan membicarakan berapa besar lebih tua seorang terhadap orang lain.

Misalnya : umur manusia, seperti jarak antara kelompok penduduk berusia 15-19 terhadap 20-24, terhadap 25-29, terhadap 30-34 dan seterusnya.

Variabel Ratio.

Variabel ratio mempunyai titik nol. Di dalam variabel ratio ketegori-kategori dapat dikalikan dan dapat dibagikan terhadap kategori lain. Ratio diantara tiap pasangan kategori diketahui.

Misalnya rasio jenis kelamin yaitu perbandingan laki-laki terhadap jumlah wanita, atau ratio umur yaitu membandingkan umur si X terhadap umur si Y, dimana umur si X dua kali lebih tua dari pada si Y.

Berdasarkan fungsi variabel dalam penelitian, maka dapat dibedakan beberapa jenis variabel antara lain : variabel bebas, variabel tergantung, variabel moderator, variabel kendali (kontrol) dan variabel rambang.

Di dalam penelitian tidak semua variabel penelitian dikemukakan maka akan sangat menyulitkan dalam pelaksanaan.

Variabel tergantung yang disebut juga variabel terikat merupakan akibat dari variabel bebas yang merupakan unsur penyebab. Variabel tergantung terdiri dari sejumlah unsur/kategori yang timbul sebagai pengaruh dari variabel bebas.

Variabel bebas terdiri dari sejumlah faktor atau unsur yang menentukan munculnya unsur-unsur lain yang disebut variabel terikat.

§ Variabel bebas berpengaruh aktif terhadap variabel tergantung.

§ Tanpa variabel bebas maka variabel terikat tidak akan muncul.

Kenyataan banyak variabel seperti umur, tingkat pendidikan, keadaan ekonomi keluarga berpengaruh terhadap prestasi belajar. Bila variabel tersebut kurang diperhatikan kurang diperhatikan maka variabel-variabel tersebut disebut variabel mederator. Selanjutnya unsur tingakt pendidikan orang tua merupakan variabel yang menentukan prestasi belajar , namun hanya dibatasi pada orang tua yang berpendidikan SD, maka pendidikan orang tua disini berperan sebagai variabel kendali (kontrol). Bila variabel-variabel yang diteliti dinilai kurang berpengaruh terhadap prestasi belajar dan diabaikan saja maka variabel-variabel tersebut disebut variabel rambang.

Variabel-variabel (I-Q) yang telah ada pada diri subyek. Kemampuan-kemampuan yang secara alamiah sudah ada ikut mempengaruhi prestasi belajar anak. Kemampuan-kemampuan tersebut disebut variabel intervening.

5. H i p o t e s i s .

4.1. Pengertian hipotesis.

Hipotesis didefinisakan bermacam-macam. Dibawah ini dapat diberi beberapa contoh difinisi tentang hipotesis tersebut. Hipotesis adalah pernyataan-pernyataan yang diuji melalui observasi/penelitian aktivitas-aktivitas sosial yang sedang berlangsung.

Hipotesis diartikan pula sebagai pernyataan populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data sampel penelitian.

Hipotesis merupakan pula jawaban sementara yang secara teoritis dianggap paling benar, yang perlu diuji kebenarannya melalui penelitian. Winarno (1975, hal.58) menyebabkan hiotesis sebagai teori sementara / petunjuk sementara ke arah pemecahan masalah. Secara etomologis hipotesis berarti sesuatu yang masih kurang dari suatu kesimpulan pendapat (thesis) karena hipotesis adalah kesimpulan sementara, kesimpulan yang belum final karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis adalah suatu jawaban duga yang dianggap besar kemungkinannya untuk menjadi jawaban yang benar. Bila hipotesis itu dibenarkan melalui data yang diolah dan di interpretasikan maka hipotesis berubah menjadi tesis. Demikian hipotesi merupakan suatu kesimpulan yang belum final, karena masih harus dibuktikan kebenarannya.

5.2. Peranan Hipotesis.

Hipotesis lebih banyak dipakai dalam pengujian suatu masalah penelitian. Untuk itu perlu merumuskan hipotesis yang menurut dugaan paling besar kemungkinannya untuk dibenarkan oleh data.

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian disebut hipotesis penelitian . hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris. Menguji hipotesis berarti meneliti apakah hipotesis itu dapat atau tidak dapat diterima sebagai jawaban yang tepat dan bukan membuktikan hipotesis itu harus benar.

Menguji kebenaran hipotesis berarti bersifat obyektif di atas data dan tidak semata-mata membuktikan bahwa hipotesis itu benar. Seandainya ada tiga buah hipotesis penelitian, dimana hipotesis pertama dan kedua ditunjukkan kebenrannya tetapi tidak termasuk hipotesis ketiga, maka keadaan semacam ini perlu dilaporkan di bahas.

Hipotesis, ditinjau daeri sudut pemecahan masalah maka hipotesis merupakan kemugkinan jawaban terhadap persoalan yng diselidiki. Di samping itu setiap hipotesis harus diuji tersendiri untuk menetapkan hipotesis yang paling sesuai dengan segala bukti yang dapat dikumpulkan. Hipotesis yang paling sesuai itu yang menjadi kesimpulan, yaitu sebagai penjelasan setepat-tepatnya terhadap fenomena tertentu.

Misalnya teori Ptolomeus tentang peredaran benda-benda alam seperti planet dan lain-lain yang berpusat pada bumi yang tidak bergerak (geosentris) yang kemudian digantikan dengan teori Copernicus (abad XVI) dengan teori heliosentris.

Hipotesis untuk tujuan penelitian dibedakan atas hipotesis alternatif (HA) dan hipotesis nol (H0).

H0 menunjukkan tidak ada saling hubungan antara dua variabel atau lebih, atau hipotesis yang menyatakan tidak adanya perbedaan antara kelompok satu dengn kelompok lain.

Di dalam uji statistik biasanya mempunyai sasaran untuk menolak kebenaran H0. Berbeda dengan HA, yang menyatakan tentang adanya saling hubungan antara variabel atau lebih menyatakan adanya perbedaan dalam hal tertentu pada kelompok-kelompok yang berbeda. Kesimpulan uji statistik yang menerima HA sebagai hal yang benar.

H0 mempersoalkan tentang tidak adanya hubungan atau tentang ketidak adanya perbedaan. HA mempersoalkan tentang ada hubungan atau ada perbedaan. Dalam praktek HA lebih banyak digunakan karena tendensi penelitian yaitu untuk melihat adanya saling hubungan atau adanya perbedaan.

Hipotesis juga berperan pula untuk membuat prediksi, contoh : prediksi tentang nilai ujian masuk dan prestasi belajar, di mana mahasiswa-mahasiswa dengan nilai-nilai ujian masuk yang tinggi akan mempunyai indeks prestasi belajar yang tinggi pula.

Taraf ketepatan prediksi tergantung pula dari taraf kebenaran dan tarad ketepatan landasan teoritis yang mendasari. Dasar teori yang kurang tepat dan sebaliknya.

Hipotesis dalam penelitian berperan untuk :

(1) memberikan tujuan yang tegas bagi penelitian,

(2) penentuan arah penelitian dan ruang lingkup penelitian dengan memilih fakta-fakta pokok dan relevan, dan

(3) menghindari arah yang tidak jelas dan mencegah pengumpulan data yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

Tidak semua jenis penelitian membutuhkan hipotesis. Penelitian eksploratif (pengumpulan data) dan penelitian deskriptif (melukiskan) kurang/tidak membutuhkan hipotesi. Penelitian eksploratif dan penelitian deskriptif tidak bertujuan untuk menguji hipotesi, namun hanya bertujuan mendiskripsian hasil penelitian (data yang dikumpulkan).

Penelitian eksplanatory (menerangkan) cenderung menginterpretasikan data yang dikumpulkan sehingga memerlukan hipotesi. Demikian teori-teori yang melandasi hipotesis dapat diuji lebih terperinci. Prosedur penelitian explanatory dilakukan melalui melalui masalah penelitian, hipotesis, pengumpulan data, pengolahan data. Penelitian explanatory sebagai suatu sistem berpikir yng teratur membutuhkan hipotesis. Sistem berpikir yang teratur yang dimaksud adalah :

(1) berpikir induktif untuk pemecahan masalah. Hasil pemikiran dijadikan hipotesis.

(2) Setelah hipotesis dirumuskan dilanjutkan dengan pendekatan deduktif untuk menentukan jenis data yang perlu dikumpulkan; dan

(3) Pengujian hipotesis.

Ciri-ciri hipotesis yang baik (Tan Melly, 1976, hal.31) adalah : (1) kesederhanaan dalam perumusan, (2) penggunaan variabel-variabel yang kongkrit, dan (3) kebenaran hipotesa dapat diuji.

5.3. Sumber Utama Hipotesis.

Suatu hipotesis mempunyai 3 (tiga) sumber antara lain : (1) pengalaman, pengamatan dan dugaan penelitian sendiri, (2) hasil-hsil penelitian terdahulu, dan (3) teori-teori yang sudah ada.

Hipotesis—hipotesis berdasarkan sumber pertama, bersifat sementara dan lemah. Penelitian explanatory dn penelitian deskriptif biasanya bersumber pada hipotesis ini.

Hipotesis-hipotesis yagn bersumber dari hasil penelitian yang bersifat explanatory.

Hipotesis berdasarkan hasil penelitian bertujuan untuk menguji kebenarannya yang sudah diuji. Bila terbukti benar maka hasilnya memperkuat kebenaran hipotesis dan membantu merumuskan suatu teori. Hipotesis yang kuat bersumber dari teori-teori yang telah ada. Kalau hasil penelitian membenarkan hipotesis maka teori diperkuat kebenarannya.

6. Definisi Operasional.

Definisi adalah suatu cara untuk mengintredusir suatu istilah/penertian sehingga tidak salah dimengerti atau tidak salah diinterpretasikan. Mendifinisikan istilah-istilah pokok, sangat penting untuk mengkomunikasikan hasil penelitian.

Pada dasarnya ada 2 (dua) jenis definisi, yang disebut definisi konotatif dan definisi operasional.

Definisi konotatif berarti mendefinisikan konsep dalam kaitannya dengan konsep lain yang kuang abstrak dan memungkinkan pendengar menangkap istilah yang lebih komplek. Contoh definisi konotatif tentang kemiskinan yaitu : (a) keadaan hidup dalam kondisi yang tidak mememnuhi syarat, (b) tidak ada cara apapun untuk mendapatkan penghasilan, (c) pernyataan psikologis tentang kepuasan.

Disamping definisi komotatif ada definisi operasional yang disebut definisi denotatif. Definisi operasional tidak lain adalah mengubah konsep-konsep yang counstructs dengan kata-kata yang menggambarkan tingkah laku atau gejala dapat diamati, dapat diuji dan ditentukan kebenarannya oleh orang lai. Definisi operasional bersifat diorektif dengan menurunkan konsep-konsep abstrak yang realistis konkrit, sehingga gejala tersebut mudah dikenal. Demikian definisi operasional dari kemiskinan bisa diukur dasn penghasilan konkrit, misalnya penghasilan $ 100,- tiap tahun oleh keluarga dengan rata-rata 5 anak.

Definisi operasional diperlukan dalam penelitian tanpa spesifikasi jelas yang mengarahkan atau sebagai pedoman observasi/penelitian oleh definisi operasional, penelitian tidak tahu pasti apa yang harus diobservasikan.

Definisi operasional pada hakekatnya befungsi mengubah konsep-konsep constructs dengan kata-kata yang menggambarkan tingkah laku atau gejala yang dapat diamati, dapat diuji dasn ditentukan kebenaran oleh orang-orang lain. Misalnya :

(1) Menetukan faktor-faktor yang tercakup dalam konsep “politik” itu, yaitu pengetahuan tentang keadaan faktor dan ikut serta dalam kegiatan politik.

Misalnya mengajukan beberapa pertanyaan yang memeberikan gambaran tentang pengetahuan politik seseorang, pengetahuan tentang politik bebas aktif negara Indonesia, pengetahuan tentang kegiatan politik partai-partai politik di Indonesia disampin itu ditanyakan pula keanggotaan status dan peranan dalam parpol.

Tahap selanjutnya diberikan skor/nilai terhadap tiap pertanyaan yang diketahui, da skor/ nilai terhadap keanggotaan, status dan peranan dalam organisasi-organisasi politik. Anggota-anggota ini diperlukan untuk menentukan tingkat kesadaran masing-masing orang, ktegori kesadaran politik yang tinggi, sedang dan rendah.

(2) Menentukan cara pengukuran pengetahuan tentang keadaan politik dan keikutsertaan dalam politik.

Disamping pengelompokan definisi tersebut diatas, Babbic (1975, pp. 80-85) menunjukkan adanya tiga jenis definisi, yaitu (a) Real definition, (b) Nominal definition,dan (c) Operational definition.

Real definition adalah pernyataan tentang keaslian esensial atau atribut esensial dari beberapa keadaan (wujud). Istilah “kelas sosial” sudah lama dipakai dan mewakili beberapa konsep, Karl Marx menggunakan istilah Kelas Sosial, yang berarti posisi seseorang berkaitan dengan produksi ekonomi. W. Lioyd Warner menggunakan istilah ini berkaitan dengan prestise sosial disuatu masyarakat. Kenyataan tiap ilmuwan sosial mempunyai konsep berbeda-beda apabila menggunakan istilah tersebut. Jadi sebenarnya tidak ada real definition untuk istilah-istilah seperti pendidikan, lapangan kerja, posisi sosial, dan sebagainya.

Nominal definition adalah suatu definisi yan tidak mempersoalkan arti sebenarnya para ilmuwan sosial mendefinisikan suatu istilah menurut keinginannya. Misalnya : seorang ilmuwan sosial mendifinisikan “status sosial ekonomi” sebagai suatu kombinasi dari pendidikan formil dan pendapatan (income).

Seorang ilmuwan sosial yang lain lagi dapat mendefinisikan status sosial ekonomi menurut pandangannya sendiri. Demikian sebenarnya yang ada hanyalah definisi perorangan (personal definition).

Operational definition (lihat halaman 35 )


PROSES PENELITIAN

Penelitian itu merupakan suatu proses yaitu suatu rangkaian langkah-langkah yang dilaksanakan secara terencana dan sistematis untuk memecahkan masalah-masalah atau mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang disusunnya. Sebagai suatu proses, diperlukan adanya pentahapan dari awal sampai akhir suatu penelitian. Banyak macam urutan pentahapan yang dilakukan oleh seorang peneliti dalam melaksanakan tugas penelitian. Namun demikian ada langkah-langkah yang sifatnya umum yang dilaksanakan dalam penelitian.

Langkah-langkah tersebut haruslah serasi, saling mendukung dan tidak terdapat kontradiksi di dalamnya. Langkah-langkah penelitian pada umumnya sebagai berikut :

1. Identifikasi, pemilihan dan perumusan masalah;

2. Penelaahan kepustakaan;

3. Penyusunan hipotesis;

4. Identifikasi, klasifikasi dan definisi operasional variabel-variabel;

5. Pemilihan, pengembangan alat pengumpul data;

6. Penyusunan rancangan penelitian;

7. Penentuan dan pemilihan populasi dan sampel penelitian;

8. Pengumpulan data;

9. Pengolahan dan analisis data;

10. Interpretasi hasil analisis data;

11. Pelaporan hasil penelitian.

Dari kesebelas langkah ini dapat dilukiskan dalam “bagan jalur proses penelitian“ sebagai berikut :

Tidak semua jenis penelitian harus mengikuti langkah demi langkah jalur proses penelitian ini secara lengkap; namun demikian langkah-langkah ini akan dibicarakan satu demi satu.

1. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah

Masalah itu ada bila terjadi kesenjangan antara yang ada dan yang seharusnya ada, apa yang tersedia dan apa yang diperlukan, kenyataan dan harapan dan sebagainya. Penelitian diharapkan dapat mampu menjembatani antara keduanya, sehingga jaraknya dapat ditutup atau dipersempit. Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang selalu menemukan/menghadapi masalah, mulai dari yang paling sederhana, sampai sangat rumit (kompleks), karena itu tidaklah sulit untuk mendapatkan masalah.

1.1. Identifikasi Masalah

Masalah yang tidak dapat dipecahkan/dijawab dengan cara berpikir yang tradisional dan dengan penalaran yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, perlu diadakan penelitian lebih mendalam. Karena masalah yang harus dijawab melalui penelitian itu cukup banyak maka peneliti tinggal mengidentifikasi, memilih dan merumuskan masalah dengan baik, diperlukan kejelian peneliti. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam merumuskan masalah dengan baik antara lain melalui :

(1) Bacaan tentang teori-teori dan konsep-konsep dari buku yang ditulis oleh para ahli, bacaan dari laporan hasil penelitian yang mencantumkan perlunya penelitian lebih lanjut ;

(2) Semua diskusi dan pertemuan ilmiah lainnya. Pertemuan-pertemuan ilmiah baik dalam bentuk seminar, simposium, diskusi dan sebagainya merupakan sumber masalah penelitian yang cukup kaya, karena para pesertanya melihat hal-hal yang dipersoalkan secara profesional. Dengan kemampuan profesionalnya para peserta ilmuwan melihat, menganalisis, mengumpulkan dn mempersoalkan masalah yang dijadikan pokok pembicaraan. Dengan demikian akan banyak sekali masalah-masalah yang muncul dan perlu diteliti.

(3) Pernyataan pemegang otoritas. Pemegang otoritas dalam badan pemerintahan maupun dalam bidang ilmu pengetahuan dapat dijadikan sumber masalah untuk penelitian, misalnya pernyataan seorang Menteri/Dirjen dapat mengundang dilakukan penelitian. Pernyataan para ahli dalam bidangnya masing-masing dapat menjadi sumber masalah untuk diteliti.

(4) Pengamatan sepintas. Seseorang yang menyaksikan hal-hal tertentu di lapangan secara sepintas dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang dirumuskan sebagai masalah penelitian. Sudah barang tentu masalah yang dilihatnya adalah yang sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.

(5) Pengalaman pribadi. Dari pengalaman pribadi seringkali dapat dijadikan sumber penemuan masalah penelitian. Dalam bidang ilmu-ilmu sosial seringkali terjadi penemuan masalah melalui pengalaman pribadi. Pengalaman yang demikian ini mungkin berkaitan dengan perkembangan dan kehidupan pribadi, kehidupan profesional, religi dan intelektual dan sebagainya.

(6) Perasaan intuitif. Dari kehidupan sehari-hari dapat terjadi munculnya perasaan dengan tiba-tiba tanpa dipikirkan lebih dahulu. Masalah-masalah pun dapat muncul secara tiba-tiba dalam pikiran para ilmuwan. Masalah-masalah penelitian itu akan muncul bahkan dapat diidentifikasi apabila si-peneliti memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam bidang masing-masing.

1.2. Pemilihan Masalah

Waktu melakukan identifikasi masalah akan dijumpai lebih dari satu masalah yang dianggap penting untuk diteliti. Oleh karena itu perlu dipilih salah satu yang paling layak dan sesuai untuk diteliti. Pada dasarnya ada pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk memilih/menentukan suatu masalah yaitu dari segi masalahnya dan dari segi calon penelitinya.

(1) Dari segi masalah. Apakah suatu masalah itu layak untuk diteliti ? Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan pertimbangan-pertimbangan secara obyektif yaitu sejauh mana masalah tersebut dapat memberikan sumbangan bagi pengembangan teori/konsep dalam bidangnya dan pemecahan masalah-masalah praktis. Sejauh mana dapat dilakukan pengumpulan data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, memecahkan masalah yang diteliti. Masalah yang akan diteliti sebaiknya tidak dalam bentuk pendirian mengenai etika dan moral.

(2) Dari segi peneliti. Apakah suatu masalah itu sesuai dengan minat, perhatian dan kemampuan si-peneliti untuk melaksanakannya, misalkan apakah : (a) tersedia biaya, (b) waktunyatepat, (c) peralatan dan perlengkapan tersedia, (d) memiliki kemampuan teoritis dan praktis, dan (e) menguasai metode-metode yang diperlukan. Dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan diatas, seorang peneliti dapat memilih masalah. Jika pertimbangan-pertimbangan tersebut tidak dapat dipenuhi sebaiknya diganti dengan masalah lain atau diadakan modifikasi seperlunya sehingga sesuai baginya.

1.3. Perumusan Masalah.

Perumusan masalah merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, karena hasilnya akan menjadi penuntun dan patokan untuk langkah-langkah selanjutnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah antara lain : (a) rumusannya harus dalam bentuk kalimat tanya, (b) rumusannya harus dalam bentuk kalimat yang lengkap dan jelas serta padat, tidak menimbulkan tafsiran ganda, (c) rumusan mencakup ruang lingkup masalah yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, (d) rumusan dapat memberi petunjuk bagaimana mengumpulkan data tentang masalah tersebut.

2. Penelaahan Kepustakaan.

Suatu penelitian yang akan dilakukan perlu dilandasi teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi yang diperoleh melalui penelaahan kepustakaan. Landasan ini sangat penting agar penelitian memiliki dasar-dasar yang kokoh, kuat dan tidask dilakukan secara coba-coba saja (trial and error). Sumber-sumber kepustakaan merupakan bagian penting untuk pelaksanaan penelitian yang baik. Sumber kepustakaan dibedakan menjadi : (a) sumber acuan umum, dan (b) sumber acuan khusus. Teori-teori dan konsep-konsep serta generalisasi pada umumnya dapat ditemukan dalam sumber acuan umum, yaitu : buku-buku teks, ensiklopedia, monograph dan sebagainya. Sedangkan sumber acuan khusus berassal dari laporan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya yang relevan dengan masalah yang sedang digarap. Dari sinilah dapat diperoleh generalisasi-generalisasi suatu masalah yang diteliti. Sumber acuan khusus disini berwujud : jurnal, buletin penelitian, thesis, disertasi, makalah-makalah dan sebagainya. Ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam memilih sumber acuan khusus antara lain : kemuktahiran dan relevansi. Sumber kepustakaan yang sudah lama berguna untuk penelitian historis, sedangkan untuk penelitian yang lain diperlukan yang lebih muktahir. Sumber bacaan yang telah lama memuat teori-teori dan konsep-konsep yang mungkin tidask berlaku lagi dan tidak cocok, karena telah dibantah oleh teori-teori dasn konsep-konsep baru dari hasil penelitian yang lebih muktahir yang relevan dengan masalah yang diteliti.

Pada umumnya teori-teori dan konsep-konsep umum analisisnya dilakukan melalui penalaran deduktif, sedasngkan generalisasi atau sintesis dilakukan melalui penalaran induktif. Penalaran deduktif dan induktif ini dilakukan secara interaktif dan berulang-ulang, sehingga jawaban terhadap masalah yang diteliti taraf kebenarannya tinggi. Jawaban sementara masalah yang masih harus diuji kebenarannya inilah yang dijadikan hipotesis penelitian.

Penyusunan landasan teoritis diperoleh dari sumber bacaan yang relevan secara tuntas, kemudian ditelaah, dibanding-bandingkan dan diambil kesimpulan-kesimpulan teoritis. Informasi yang terkumpul melalui kegiatan bacaan digunakan unutk penelaahan lebih lanjut masalah yang sedang diteliti. Dengan deduksi dilakukan perincian dan pengkhususan; sedasngkan induksi dilakukan pemaduan dan generalisasi-generalisasi. Semuanya dilakukan kedalam suatu sistem yang berupa beberapa kesimpulan-kesimpulan teoritis yang akan dilakukan landasan bagi penyusunan hipotesis penelitian. Dari kesimpulan-kesimpulan teoritis yang akan dijadikan landasan teoritis ini penelitian mengidentifikasi faktor-faktor untama yang menjadi variabel-variabel penelitiannya. Haisl ramuan kesimpulan-kesimpulan teoritis ini dapat menggambarkan bagaimana mutu sistem pemikiran teoritis peneliti, yang merupakan garis pikirannya yang konsisten.

3. Perumusan Hipotesis.

Hipotesis penelitian merupakan awaban sementara terhadap masalah penelitian, yang masih harus dibuktikan/diuji kebenarannya secara empiris. Hipotesis merupakan rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoritis yang diperoleh dari penelaahan kepustakaan melalui buku teks, hasil-hasil penelitian tersebut, yang secara teoritis dianggap paling tinggi tingkat kebenarannya.

Hipotesis secara teknis diidentifikasikan sebagai pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang dikumpulkan dari sampel penelitian. Secara statistik hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan parameter yang akan diuji melalui perhitungan statistik sampel. Secara implisit hipotesis menyatakan prediksi (perkiraan).

Taraf ketepatan prediksi banyak tergantung pada taraf kebenaran dan taraf ketepatan landasasn teori yang mendasarinya. Landasan teori yang kurang kuat dapat menghasilkan prediksi yang kurang tepat.

Tidak ada aturan umum yang merumuskan hipotesis, tetapi ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan antara lain sebagai berikut :

(1) Hipotesis menyatakan hubungan/pertautan antara dua variabel atau lebih ;

(2) Hipotesis dinyatakan dinyatakan dalam bentuk kalimat deklaratif (kalimat pernyataan).

(3) Hipotesis dirumuskan secara jelas, padat dan tepat ;

(4) Hipotesis dapat dirumuskan dalam bentuk kalimat matematis;

(5) Hipotesis dapat diuji dengan data-data yang dikumpulkan.

Dari macam-macam isi dan rumusan hipotesis dapat dibedakan menjadi : (a) hipotesis hubungan, dan (b) hipotesis perbedaan. Hipotesis hubungan menyatakan saling hubungan antara dua variabel atau lebih. Hipotesis perbedaan menyatakan perbedaan antara dua variabel atu lebih dalam kelompok-kelompok. Hipotesis yang menyatakan tidak adanya perbedaan/hubungan antara dua variabel atau lebih, dinamakan hipotesis nol (Ho). Analisis statistik yang menguji hipotesis nol biasanya mempunyai sasaran untuk menolak kebenaran hipotesis tersebut. Hipotesis Alternatif (Ha) menyatakan adanya hubugan/perbedaan antara dua variabel atau lebih. Dalam analisis statistik biasanya menerima hipotesis alternatif sebagai hal yang benar.

Untuk menentukan penggunaan hipotesis nol atau hipotesis alternatif tergantung pada landasan teoritis yang mengarahkan kesimpulan “tidak ada perbedaan/ada hubungan” antara dua variabel atau lebih.

Dalam suatu penelitan yang komponen-komponennya dijalin secara serasi oleh teori-teori tertentu dan penelitiannyadituntut secara tertib oleh metodologi tertentu, misalkan menggunakan langkah-langkah : masalah hipotesis – data, analisis dan kesimpulan dituntut adanya hipotesis. Tetapi jika komponennya tidak memerlukan langkah-langkah yang tersebut di atas tidak memerlukan hipotesis.

Dengan cara lain hipotesis dapat dibedakan atas : (a) hipotesis mayor, dan (b) hipotesis minor. Hipotesis mayor, ialah hipotesis induk menjadi sumber dari hipotesis minor; hipotesis minor adalah hipotesis anak. Bukti kebenaran hipotesis mayor akan membenarkan pula hipotesis minornya.

Contoh hipotesis mayor :

- kemiskinan mejadi sebab utama timbulnya kejahatan.

Contoh hipotesis minor :

- Antara kemiskinan dan kejahatan ada hubungan yang positif.

- Ada hubungan yang positif antara derajat kemiskinan dengan jumlah pencurian.

- Antara kemiskinan dan kejahatan ada hubungan yng searah.

Dari hipotesis mayor dapat dijabarkan lebih lanjut menjadi hipotesis minor seperti contoh tersebut diatas.

4. Identifikasi, Klasifikasi dan Definisi Operasional Variabel – Variabel.

Dalam merumuskan suatu hipotesis secara implisit telah berisi variabel-variabel utama yang akan diteliti. Semua variabel yang akan diteliti harus jelas identifikasinya, jelas klasifikasinya, dan diberi definisi operasional yang tepat.

4.1. Identifikasi Variabel.

Variabel itu mempunyai hubungan yang erat dengan landasan teori yang disusunnya. Variabel dapat dibedakan menjadi deskrit (descrete)dan variabel bersambung (couninuoes) . variabel deskrit menunjuk pada hasil perhitungan, sedangkan variabel bersambung menunjuk pada hsil pengukuran. Contoh : menghitung jumlah anak, jenis kelamin, dan sebagainya; mengukur tinggi badan, berat, luas bangunan dan seterusnya.

Istilah variabel dapat diartikan bermacam-macam antara lain : (a) sebagai sesuatu yang akan menjadi obyek pengamatan penelitian, (b) sebagai faktor-faktor yang berperanan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Varibel dari suatu penelitian ditentukan oleh landasan teoritis dan dipertegas dalam rumusan hipotesisnya. Jika landasan teoritis berbeda, hioitesisnya tentu akan berbeda dan variabel-variabel penelitiannya tentu akan berbeda pula. Banyaknya variabel dalam penelitian ditentukan oleh rumit (kompleks) tidaknya suatu rancangan penelitian. Makin sederhana rancangan penelitian makin sedikit jumlah variabel yang dilibatkan. Variabel diartikan pula sebagai pengelompokkan yang logis dari dua sifat (simbol) atau lebih misalnya : pria dan wanita dikelompokkan mwnjadi variabel jenis kelamin, tua, muda, anak-anak menjadi variabel usia, buruh tani, pedagang, guru menjadi variabel pekerjaan.

Dalam penyusunan kuesioner, sifat-sifat / simbol-simbol dari suatu variabel perlu diketahui secara lengkap, karena unutk menentukan jenis pertanyaan tertutup atau terbuka.

4.2. Klasifikasi Variabel.

Variabel – variabel yang telah diidentifikasi perlu diklasifikasikan sesuai dengan jenis dan peranannya dalam penelitian. Klasifikasi ini penting untuk menentukan alat pengumpul data yang akan digunakan dan analisis statistik mana yang akan digunakan.

Sejalan dengan jenis data yang akan dihasilkan oleh alat pengumpuldasta, maka variabel pun dapat dibedakan sesuai dengan jenis datanya yaitu : (a) Variabel nominal, (b) variabel ordinal, (c) variabel internal, dan (d) varibel rasio.

(a) Varibael nominal ditetapkan atas dasar penggolongan. Varibel ini bersifat deskrit dan dapat dipisah-pisahkan antara yang satu dengan lainnya, misalkan : jenis kelamin, status perkawinan, jenis pekerjaan dan sebagainya.

(b) Varibel odinal disusun atas dasar jenjang dalam sifat-sifat/simbol-simbol tertentu. Jenjang ini disusun dari yang tertingi sampai yang terendah atau sebaliknya, misalnya : rangking prestasi belajar, perlombaan, dan sebagainya ; sebagai hasil perhitungan/urutan.

(c) Variabel interval dihasilkan dari pengukuran yang diasumsikan terdapat satuan pengukuran yang sama, misalnya : sikap terhadap pelajaran yang dinyatakan dalam skor, skala, demikian pula persepsi/pendapat terhadap keluarga berencana (KB) dan sebagainya.

(d) Variabel rasio dalam kuantifikasinya mempunyai nilai nol mutlak. Variabel ini ditetapkan atas perbandingan-perbandingan yang teliti dan tepat. Dalam ilmu-ilmu sosial variabel rasio jarang sekali digunakan, karena gejala sosial akan berbeda menurut waktu, tempat kondisinya.

Jika dilihat dari fungsinya dalam penelitian variabel dapat diklasifikasikan menjadi : (a) variabel tergantung (terikat), (b) variabel bebas, (c) variabel kendali, (d) variabel moderator, dan (e) variabel rambang, serta (f) variabel antara (intervening).

Klasifikasi ini didasarkan atas pola pikiran hubungan sebab akibat :

(a) Variabel tergantung (biasa diberi kode Y). keadaan dan sifatnya tegantung dari varibel bebas, moderator, kendali, rambang dan antara. Variabel tergantung menjadi titik pusat persoalan, yang sering disebut : kriterium. Misalnya : usaha pertanian denan pokok persoalan produksi pangan, usaha pengobatan dengan pokok persoalan taraf kesembuhan, usaha pendidikan dengan pokok persoalan hasil belajar dan sebagainya.

(b) Variabel bebas (X1) ialah yang dengan sengaja dipelajari pengaruhnya terhadap variabel tergantung misalnya : variabel tergantung prestasi belajar variabel bebasnya taraf kecerdasan, metode belajar.

(c) Variabel moderator (X2) berusaha untuk memisahkan pengasuhnya terhadap variabel tergantung supaya lebih bersih misalnya : jenis kelamin juga berpengaruh kepada prestasi belajar.

(d) Variabel kendali/kontrol (X3) berusaha untuk menetralisasikan pengaruh kepada variabel tergantung misalnya : umur, pada setiap kelompok umur berbeda-beda pengaruhnya kepada prestasi belajar.

(e) Variabel rambang (X4) adalah variabel yang berpengaruh terhadap variabel tergantung tidak menimbulkan perbedaan yang berarti sehingga dapat diabaikan.

(f) Variabel antara/intervening (X5) merupakan proses yang terjadi pada diri subyek yang diteliti dan sulit dapat diamati.

BAGAN HUBUNGAN VARIABEL :

AKIBAT

SEBAB

HUBUNGAN

(PROSES)

VARIABEL BEBAS

VARIABEL KENDALI

VARIABEL MODERATOR

VARIABEL ANTARA

VARIABEL TERGANTUNG

VARIABEL RAMBANG

4.3.Definisi Operasional Variabel.

Variabel perlu dibuatkan definisi operasional untuk membatasi ruang lingkupnya secara tepat dan menunjukkan alat pengumpul data mana yang paling cocok digunakan.

Definisi operasional adalah difinisi yang didasarkan atas sifat-sifat /hal-hal yang dapat diamati (diobservasi) dari variabel penelitian, sehingga terbuka kemungkinan untuk diuji orang lain kembali.

Ada beberapa macam cara unutk menyusun definisi operasional antara lain : (a) menekankan pada kegiatan (operation) apa yang dilakukan, (b) menekankan pada kegiatan bagaimana dilakukan, (c) menekankan pada sifat-sifat statis yang didefinisikan.

Contoh (a) :

Frustasi adalah keadaan yang timbul sebagai akibat tergangunya pencapaian hal yang sangat diinginkan, yang sudah hampir tercapai ;

Contoh (b) :

Orang cerdas adalah orang yang tinggi kemampuannya dalam memecahkan masalah, tinggi kemampuannya dengan menggunakan bahasa dan bilangan;

Contoh (c) :

Mahasiswa yang cerdas adalah mahasiswa yang mempunyai : ingatan-ingatan yang baik, perbendaharaan kata luas, kemampuan berpikir dan berhitung baik.

5. Pemilihan dan Pengembangan Alat Pengumpulan Data.

Dalam suatu penelitian alat pengumpul data menentukan kualitas data dan selanjutnya menentukan pula kualitas penelitiannya. Alat pengumpul data harus dikerjakan dengan cermat sehingga dapat menjangkau semua aspek yang ingin diteliti.

Agar supaya penelitian mempunyai mutu yang cukup tinggi, maka alat pengumpul data harus memenuhi persyaratan sebagai alat pengukur yang baik. Syarat – syarat tersebut antara lain : (a) validitas, (b) reliabilitas, dan (c) pembakuannya.

Validitas (kesahihan) menunjuk kepada sejauhmana alat pengukur itu mengukur apa yang seharusnya diukur. Reliabilitas (keterandalan) suatu alat pengukur menunjuk kepada keajegan hasil pengukuran apabila digunakan oleh lain dalam waktu yang sama atau berlainan. Reliabilitas secara implisit mengandung obyektifitas, karena hasil pengukuran tidak terpengaruh oleh siapa pengukurnya.

Alat pengambilan data harus diuji validitas dan realiabilitas serta suatu alat yang baik juga harus dibuat pembukuannya (standardisasi), meskipun tidak harus selalu dipenuhi.

Apabila alat pegambilan data sudah ada (tinggal pakai) karena sudah diakui validitas dan reliabilitasnya, ada kewajiban dari : si pemakai untuk melaporkan taraf validitas dan reliabilitasnya oleh peneliti yang lebih dahulu atau menurut konvensi tertentu.

5.1.Memilih Alat Pengumpul Data.

Cara memilih alat pengumpul data harus disesuaikan dengan jenis variabelnya. Ada beberapa pertimbangan dalam memilih alat pengumpul data, antara lain : validitas, reliabilitas, kepraktisan, mudah atau sukarnya, pengadministrasiannya, dan kualifikasi orang yang harus memakainya. Setelah pertimbangankan hal-hal tersebut diatas barulah sutu alat pengumpul data diputuskan untuk dipilih.

5.2.Pengembangan Alat Pengumpul Data.

Dalam ilmu-ilmu sosial kadang-kadang seorang peneliti harus membuat /mengembangkan lat pengumpul data sendiri, atau mengadaptasi terlebih dahulu alat pngumpul data yang akan digunakan. Apabila seorang peneliti harus membuat alat sendiri atau mengadaptasi alat yang sudah ada, maka ia harus melakukan uji coba untuk memperoleh keyakinan tentang kualitas alat tersebut. Apabila kualitas telah memadai barulah dapat digunakan untuk mengambil data.

6. Penyusunan Rancangan Penelitian.

Suatu rancangan penelitian itu akan ditentukan oleh variabel yang telah diidentidikasikan dan hipotesis yang akan diuji/dibuktikan kebenarannya serta ketersalinan seluruh komponen penelitian secara serasi dan tertib. Keterampilan dalam menyusun rancangan penelitian dapat diperoleh melalui latihan dan pengalaman. Pengalaman yang diperoleh melalui membaca, seminar, rancangan penelitian/laporan penelitian, simulasi penelitian, akan sangat membantu keterapilan menyusun rancangan penelitian.

7. Penentuan Populasi dan Sampel Penelitian.

7.1.Penentuan Populasi.

Populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang sifat-sifatnya akan diduga (jumlah unit diketahui = N unit), unit analisis adalah satuan-satuan/ individu-individu yang membentuk suatu data statistik. Unit analisis mungkin berupa orang, rumah tangga, tanah pertanian, perusahaan yang biasanya diteliti. Unit analisis sering disebut elemen dari populasi. Apabila luasnya populasi objek penelitian telah ditentukan maka perlu ditegaskan sifat-sifat populasi, dan batas-batasnya tegas. Populasi obyek penelitian yang terbatas luasnya, tegas batas-batasnya dan sifat-sifatnya telah ditentukan, maka akan dapat ditentukan besarnya sampel yang akan ditetapkan unutk menyusun generalisasi sebagai kesimpulan penelitian. Suatu sampel ayng diambil dari populasi harus benar-benar mencerminkan populasinya.

7.2.Penentuan Sampel.

Hampir semua penelitian ilmiah itu hanya dilakukan terhadap sebagian 0saja dari semua anggota populasi yang ditelitinya. Pada umumnya penelitian dilakukan terhadap sampel bukan terhadap populasi. Kesimpulan yang ditarik dari sampel dikenakan (digeneralisasikan) terhadap populasi. Besar kecilnya sampel yang diambil untuk penelitian seringkali merupakan masalah yang rumit, karena tidak ada ketentuan yang pasti berapa besar sampel penelitian. Berbagai teknik untuk menentukan sampel pada dasarnya adalah cara-cara untuk memperkecil kekeliruan generalisasi dari sampel ke populasi.

Teknik-teknik untuk menentukan sampel antara lain : dengan cara rambang (random) dan mengetes signifikansi data yang diperoleh dari sampel. Dalam penentuan sampel secara rambang, semua anggota populasi secara individual/kolektif diberi peluang yang sama untuk menjadi anggota sampel. Alat untuk mengambil sampel secara rambang ialah dengan menggunakan tabel bilangan rambang (random) atau kalkulator yang mempunyai program untuk bilangan rambang. Jika populasi sedikit/terbatas dapat digunakan sampel total artinya setiap anggota populasi dijadikan anggota sampel pula. Tetapi kalau anggota populasinya sangat banyak peluang diberikan kepada anggota populasi secara kelompok (cluster sample), setelah itu dilajutkan dengan rambang individual (individual random).

Ada pula cara untuk menentukan sampel secara bertingkat (stratified sampling) dan ada pula menentukan sampel diambil dari kelompok-kelompok secara rambang disebut : sampel rambang proporsional (proportional random sampling).

Suatu sampling dikatakan mencerminkan populasi (representatif) apabila terpenuhi para meter-parameter untuk memperkirakan sebagai berikut : (a) variabilitas populasi, (b) besar sampel, (c) teknik penentuan sampel, dan (d) kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi dalam sampel.

Peneliti tinggal menerima variabilitas populasi sebagaimana adanya, tidak dapat mengatur atau memanipulasikan. Tetapi para meter lainnya dapat diatur peneliti untuk meningkatkan taraf refresentatif sampel.

Semakin besar sampel yang diambil semakin besar taraf refresentatif sampel apabila populasinya kurang homogen. Jika populasi sangat homogen sampel cukup kecil saja sebab besar sampel tidak mempengaruhi taraf refresentatifnya.

Semakin tinggi tingkat sampel rambang makin tinggi pula tingkat representatif sampelnya, apabila populasinya kurang homogen. Jika populasi sangat homogen, rambang tidak diperlukan lagi.

Semakin lengkap ciri-ciri populasi yang dimasukkan dalam sampel, makin tinggi tingkat refresentatifnya.meskipun teknik pengambilan sampel telah menggunakan parameter-parameter untuk perkiraan, namun dalam ilmu-ilmu sosial sangat sulit bagi peneliti untuk menentukan sampel yang mencerminkan populasi secara sempurna. Atas dasar ini, maka kesalahan penggunaan sampel selalu diperhitungkan.

Analisa kesalahan dalam generalisasi dari sampel ke populasi, disebut : kesalahan baku (standard error). Dasar teori untuk menentukan kesalahan baku ialah teori probabilitas. Sampel-sampel tunduk kepada hukum probabilitas, termasuk harga-harga yang diperoleh dari sampel.

8. Pengumpulan Data.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pengumpulan data selain validitas dan reliabilitas ialah kualifikasi si pengambil data. Ada beberapa alat yang menuntut persyaratan tertentu bagi pengambilan data, misalkan : beberapa tes psikologi, beberapa alat laboratorium menuntut dasar pendidikan atau pengalaman tertentu. Jika persyaratan ini tidak dipenuhi, maka kualitas data yang diperoleh kurang dapat dipercaya.

Setiap alat pengumpul data pada umumnya mempunyai prosedur yang harus dipenuhi secara tertib. Suatu alat pengumpul data yang baik biasanya selalu disertai dengan petunjuk pelaksanaannya, yang harus dipahami benar-benar oleh orang yang menggunakan alat tersebut.

Data yang dikumpulkan peneliti itu dapat berwujud data primer, yang langsung dikumpulkan dari sumber pertamanya, dan atau dasta sekunder yang telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen, misalnya : data demografi suatu daerah, data prestasi belajar dan sebagainya.

9. Pengolahan dan Analisis Data.

Data yang telah terkumpul diseleksi apakah semua persyaratan yang dituntut telah terpenuhi. Data yang kurang lengkap dapat dilengkapi, dasn yang tidak memenuhi syarat digugurkan. Data yang telah lolos dari seleksi disusun dan diatur dalam tabel-tabel, matriks-matriks dan sebagainya, menurut kelompok-kelompok yang diinginkan untuk pengolahan lebih lanjut.

Data yang telah tersusun baik dapat dianalisis dengan statistik atau non statistik. Untuk keperluan analisis statistik diperlukan model analisis yang sesuai dengan rancangan penelitian dan ditentukan oleh hipotesisnya dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian. Jenis data yang akan dianalisis juga menentukan model analisis yang tepat digunakan (lihat tabel tekhnik-tekhnik analisis).

Analisis non statistik dilakukan bila datanya deskriptif atau data tekstual. Data deskriptif sering diannalisis menurut isinya, analisis macam ini disebut : analisis isi (content analysis). Hasil analisis statistik itu berwujud angka-angka demikian pula hasil uji statistik. Dari angka-angka inilah akan dibuat keputusan-keputusan hasil analisis atu uji statistik, misalnya : hasil uji hipotesis signifikansi/tidak signifikan pada taraf signifikan 1 % atau 5 %.

10. Interpretasi Hasil Analisis Data.

Hasil analisis itu masih dalam bentuk faktual karena itu harus diberi arti oleh peneliti. Hasil analisis dapat dibandingkan dnegan hipotesis penelitian, dibahas/didiskusikan dan akhirnya dibuat kesimpulan.

Apabila suatu hipotesis tidak tahan uji statistik (ditolak), maka peneliti harus dapat menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Sumber-sumber penyebab tidak terbuktinya (ditolaknya) suatu hipotesis penelitian dapat dicari melalui antara lain :

(a). Landasan teori kurang tepat, kedaluwarsa (cut of date = kuno).

(b). Sampel tidak representatif;

(c). Alat pengumpul data tidak valid dan reliabel;

(d). rancangan penelitian kurang tepat;

(e). Perhitungan-perhitungan ada yang salah;

(f). pengaruh variabel luaran (extraneous variabel) terhadap data besar sekali.

Ditolaknya hipotesis penelitian tidak berarti penelitian itu gagal sama sekali. Yang penting ialah peneliti memberikan keterangan dan alasan yang jelas dan kuat mengenai tidak terbuktinya hipotesis tersebut menurut sumber-sumber penyebabnya.

Apa yang sebaiknya dilakukan oleh peneliti ialah memperkecil terjadinya penolakan hipotesis (tidak terbukti kebenarannya) dengan jalan membuat persiapan yang cermat, mantap dan menyeluh sejak dari langkah-langkah awal penelitian.

11. Pelaporan Hasil Penelitian.

Langkah terakhir dari suatu proses penelitian ilah penyusunan laporan. Dengan laporan tertulis ini syarat-syarat keterbukaan ilmu pengetahuan dan penelitian akan terpenuhi. Kecendekiawan seorang peneliti dapat dilihat dari laporan peneliti yang disusunnya.

Secara garis besar sistematika laporan penelitian, sebagai berikut :

A. Bagian awal yang berisi :

1. Halaman judul.

2. Halaman pengesahan (untuk skripsi, tesis)

3. Halaman pendahuluan.

4. Halaman daftar isi.

5. Halaman daftar tebel (jika ada)

6. Halaman daftar gambar (jika ada)

7. Halamaan daftar lampiran (jika ada)

B. Bagian inti yang berisi :

Bab I Pendahuluan :

1. Latar belakang masalah.

2. Pengertian judul dan perumusan masalah.

3. Pentingnya masalah.

4. Tujaun penelitian.

5. Pendekatan penelitian.

6. Penjelasan istilah.

7. Sistematika pelaporan/penulisan.

Bab II Kerangka Pemikiran Teoritis dasn Perumusan Hipotesis :

1. Telaah kepustakaan.

2. Teori/konsep pemikiran (kerangka pemikiran)

3. Anggaran dasar (bila ada)

4. Perumusan hipotesis (bila ada) atau pertanyaan-pertanyaan penelitian.

5. Aturan keputusan untuk menerima atau menolak hipotesis.

Bab III Metode dan Prosedur Penelitian :

1. Variabel Penelitian.

2. Metode penelitian.

3. Populasi dan sampel penelitian.

4. Alat pengumpul data.

5. Pelaksanaan pengumpulan data.

6. Pengolahan dan analisis data.

Bab IV Hasil Penelitian :

1. Hasil seleksi, klasifikasi dan tabulasi data.

2. Hasil pengolahan dan analisis data

3. Hasil uji statistik (yang menyatakan hasil uji hipotesis)

4. Keputusan / kesimpulan hasil uji statisktik/hipotesis.

Bab V Pembahasan dan Kesimpulan :

1. Interpretasi hasil-hasil yang ditemukan dlaam setiap analisis data penelitian dan uji statistik.

2. Pembahasan masalah (setiap masalah dibahas dan dikaitkan dengan teori-teori). Konsep dan atau hasil-hasil penemuan lebih dahulu yang relevan dengan penelitian ini.

3. Kesimpulan tentang hasil analisis data dasn uji statistik/hipotesis

4. Keberhasilan penelitian .

Bab VI Penutup :

1. Rekomendasi.

2. Saran – saran

C. Bagian akhir, berisi :

1. Daftar kepustakaan.

2. Lampiran-lampiran.

3. Tabel, gambar / bagan

4. Biodata.

5. Ringkasan.

Apabila hasil penelitian akan dilaporkan dalam bentuk makalah/kertas kerja/paper, maka sistematika laporannya agak berbeda sedikit. Secara garis besar sistematika makalah, adalah sebagai berikut :

A. Bagian Awal, berisi :

1. Halaman judul.

2. Halaman pengesahan (makalah yang diseminarkan di program studi)

3. Kata pengantar.

4. Daftar isi.

5. Daftar tabel/bagan/gambar (jika ada)

6. Daftar lampiran (jika ada).

B. Bagian teks, berisi :

Bab I Pendahuluan, terdiri dari :

1. Latar belakang masalah.

2. Pengertian judul dasn perumusan masalah.

3. Pentingnya/kegunaan masalah.

4. Tujuan makalah.

5. Pendekatan pembahasan.

6. Sistematika makalah.

Bab II, berisi masalah-masalah yang menyangkut :

Pertanyaan tentang “apa” saja yang dibicarakan dalam makalah, misalnya : teori-teori, konsep, definisi dsan sebagainya. Bunyi bab ini akan sesuai dengan isi makalahnya.

Bab III, berisi masalah-masalah yang berhubungan dengan :

Pertanyaan-pertanyaan “mengapa”. Artinya menanyakan tentang masalah-masalah yang telah dikemukakan dalam bab II.

Bab IV, berisi masalah-masalah yang berhubungan dengan :

Pertanyaan “bagaimana”. Artinya setelah masalah dibahas “apa” di Bab II, dan “mengapa” di Bab III; maka Bab ini mencoba untuk memilih berbagai alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, serta berbagai kemungkinan yang dapat terjadi sebagai akibat pemilihan alternatif tersebut. Di sinilah masalah tersebut dapat didiskusikan/dibahas dan dipilih alternatif-alternatifnya.

Bab V Penutup, berisi :

1. Kesimpulan-kesimpulan.

2. Saran – saran / implikasinya.

C. Bagian Akhir, berisi :

1. Daftar kepustakaan.

2. Riwayat hidup.

3. Lampiran-lampiran

4. Tabel/bagan/grafik/gambar dan sebagainya.

5. Ringkasan makalah (abstract).

Dalam penulisan makalah ini, ada berbagai versi, yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Pada umumnya makalah yang dibuat mahasiswa yang akan disajikan dalam rangka memenuhi tuntutan akademik, sistematikanya disusun seperti di atas.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.